Malcolm X dan Iran
Sebuah video tahun 2007, tiba-tiba kembali viral di media sosial. Dalam video itu terlihat Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei mendoakan Malcolm X. Hal itu dilakukan oleh Ayatullah Khamenei saat membuka konferensi internasional di Iran yang membahas permasalahan Palestina. Konferensi ini dihadiri delegasi dari berbagai negara dan kebetulan bertepatan dengan hari terbunuhnya Malcolm X, yaitu tanggal 21 Februari. Ayatullah Khamenei menyatakan bela sungkawa atas kematian pemimpin HAM asal Amerika Serikat ini. Menurut beliau, hari tersebut dijadikan alarm bersama dalam perlawanan terhadap ketidakadilan Amerika dan siapapun yang arogan terhadap manusia lain. Sebelum memulai pidatonya, Ayatullah Khamenei meminta para hadirin membacakan surat Al Fatihah dan selawat untuk ruh Malcolm X.
Siapa sih yang tidak kenal dengan martir berkulit hitam satu ini yang berkebangsaan Afrika-Amerika, saya rasa presentasi dari masyarakat dunia antara yang kenal dan yang tak mengenalnya lebih banyak yang mengenalnya.
Malcolm X yang sedari usia kanak-kanaknya hingga akhir usianya ke 39 tahun ( lahir 1925-1956) telah ia lalui kehidupan yang terjal dan penuh rintangan demi menyuarakan hak-hak sipil sesama sebagai manusia. Menjadi minoritas di kalangan kulit putih adalah sebuah takdir yang mengantarkan dia menjadi manusia yang jauh lebih bermakna dan berarti. Ketika dia menemukan agama baru yang dirasa sangat sesuai dengan garis apapun, akal tak mampu mengingkarinya dan kemudian membawanya ke ritual wajib agama baru yang ia yakini , yaitu ibadah haji ke Mekah. Elhajj Malik al-Shabazz nama Malcolm X setelah masuk Islam.
Berkat aktivitas yang mengerahkan seluruh jiwa raga juga waktunya selama di dunia dan berakhir pada hilangnya nyawa, masyarakat menjadi tahu bahwa ada seorang laki-laki di bumi para rasisme meluas yang telah memperjuangkan keadilan sesama manusia, justru dari perlawananya terhadap manusia yang merasa lebih baik dari yang lain, mengakibatkan ia menjadi seorang korban penembakan kemudian martir dalam sebuah acara yang mana dialah yang akan menjadi pembicara, di kota New York.
Bagi masyarakat dunia yang mengikuti berita dan turut menanggapi peristiwa tersebut, pastilah sangat bersimpati atas tragedi pada pemimpin penggerak hak-hak asasi manusia pada masa itu, pun hingga sekarang. Salah satu negara yang sangat menjunjung hak-hak asasi dan menerapkan hukum-hukum Islam yang serba adil, adalah Republik Islam Iran .Tahun 2007 dalam sebuah konferensi internasional di Iran yang membahas permasalahan Palestina dihadiri dari berbagai negara , bertepatan juga dengan hari terbunuhnya Malcolm X 21 Februari, pemimpin besar Iran Sayyid Ali Khamenei turut berbela sungkawa atas pemimpin HAM asal Amerika ini, hari tersebut dijadikan alarm bersama guna perlawanan terhadap ketidakadilan Amerika dan siapaun yang arogan terhadap manusia lain, harus dilawan.
Sebelum memulai acara, Sayyid Ali memohon kepada hadirin untuk mengirimkan surat Alfatihah dan salawat untuk ruh Malcolm X, lalu setelah itu baru memulai pidatonya.
Di sini saya mengutip pidato singkat dari video Malcom X yang sangat memuji agama baru nya yang sangat luar biasa pengaruhnya .
" Kitab al-Quran bagaimanapun tak membiarkan penderitaan di diamkan.agama kita mengajarkan kita untuk cerdas dan damai. rendah hati lah, patuhilah terhadap aturan. Hormatilah kepada semua. Jika seseorang mencurangimu, bawalah dia ke jalanmu. Islam adalah agama yang sangat sempurna . Mata dibalas dengan mata, kepala dibalas dengan kepala, nyawa dibalas dengan nyawa. Tak ada orang yang dari ajaran Agama ini keberatan, kecuali para serigala yang menginginkan Anda semua menjadi makanannya.
Kata-kata Malcolm X yang sangat lantang berani, menginspirasi dan menyemangati para manusia yang punya hati nurani.
Di bulan berpulangnya ia ke pangkuan Tuhan semoga dengan mengenal sejarah sepak terjang hidup pemimpin HAM dari Amerika ini, kita lebih cerdas dan berani dalam melawan dan mempertahankan keyakinan yang berporos pada kebenaran.